Kamis, 06 Maret 2014

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT


Skripsi/Thesis
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
Tinjauan dari Persepsi Pasien
Oleh :
Burhanuddin Gamrin, SKM dan M. Joeharno, SKM

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Terwujudnya keadaan sehat merupakan kehendak semua pihak. Tidak hanya orang-per orang atau keluarga, akan tetapi juga oleh kelompok dan bahkan oleh seluruh anggota masyarakat. Adapun yang dimaksudkan dengan sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (U.U No 23 tahun 1992).
Kesehatan dipandang sebagai sumber daya yang memberikan kemampuan pada individu, kelompok, dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mengelola bahkan merubah pola hidup, kebiasaan dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan arah pembangunan kesehatan kita yang meninggalkan paradigma lama menuju paradigma sehat, dalam rangka menuju Indonesia Sehat 2010 (Ahmad Djojosugitjo, 2001).
Tujuan pelayanan kesehatan adalah tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang memuaskan harapan dan kebutuhan derajat masyarakat (consumer satisfaction), melalui pelayanan yang efektif oleh pemberi pelayanan yang memuaskan harapan dan kebutuhan pemberi pelayanan (provider satisfaction), pada institusi pelayanan yang diselenggarakan secara efisien (institutional satisfaction). Interaksi ketiga pilar utama pelayanan kesehatan yang serasi, selaras dan seimbang, merupakan paduan dari kepuasan tiga pihak, dan ini merupakan pelayanan kesehatan yang memuaskan (satisfactory healty care) (Ahmad Djojosugitjo, 2001).
Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah langkah terpenting untuk meningkatkan daya saing usaha Indonesia di sektor kesehatan. Hal ini tidak ringan karena peningkatan mutu tersebut bukan hanya untuk rumah sakit saja tetapi berlaku untuk semua tingkatan pelayanan kesehatan mulai dari Puskesmas Pembantu dan Puskesmas, baik di fasilitas pemerintahan maupun swasta (Ahmad Djojosugitjo, 2001).
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa masyarakat pengguna pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta semakin menuntut pelayanan yang bermutu. Tak dapat dipungkiri bahwa kini pasien semakin kritis terhadap pelayanan kesehatan dan menuntut keamanannya (Sulastomo, 2005).
Berbagai fakta menunjukkan adanya masalah serius dalam mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena belum adanya sistem pengendali mutu yang terbaik yang dapat diterapkan. Pemahaman secara lebih mendalam tentang good governance merupakan salah satu upaya terhadap perwujudan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu (Laksono, 2005).
Upaya peningkatan mutu adalah aksioma yang lemah capaian individunya, pada umumnya mencerminkan kegagalan sistem atau ketidakmampuan dari suatu organisasi memandang dan mengimprovisasikan sistem jaminan mutu. Gagasan peningkatan kualitas mutu merupakan tantangan di dalam suatu organisasi pelayanan kesehatan (Sulastomo, 2006).
Rumah sakit merupakan suatu tempat untuk melakukan upaya meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan. Masyarakat telah menganggap bahwa rumah sakit adalah harapan terakhir bagi orang yang sedang sakit. Bahkan ada sebagian masyarakat yang berperilaku untuk cepat-cepat berobat ke rumah sakit, jika mereka menderita suatu penyakit tertentu. Agar dicapai tingkat pelayanan kesehatan yang berkualitas, rumah sakit mengupayakan itu dengan meningkatkan berbagai fasilitas pelayanan (Sudarwanto, 1995).
Peningkatan mutu sebagai salah satu upaya merupakan tujuan fundamental dari pelayanan kesehatan, yakni melindungi pasien, tenaga kesehatan, dan organisasi tersebut. Hal ini merupakan suatu proses dengan output yang baru akan dapat terlihat pada program jangka menengah ataupun program jangka panjang (Sulastomo, 2006).
Pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan bentuk pelayanan yang diberikan kepada klien oleh suatu tim multi disiplin. Pelayanan kesehatan pada masa kini sudah merupakan industri jasa kesehatan utama dimana setiap rumah sakit bertanggung gugat terhadap penerima jasa pelayanan kesehatan. Keberadaan dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan ditentukan oleh nilai-nilai dan harapan dari penerima jasa pelayanan tersebut. Disamping itu, penekanan pelayanan kepada kualitas yang tinggi tersebut harus dapat dicapai dengan biaya yang dapat dipertanggungjawabkan (Ely Nurachma, 2007).
Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti dan menganalisis beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan di RS Massenrempulu Kabupaten Enrekang.

  1. Batasan Masalah
Mutu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa aspek namun karena aspek keterbatasan yang dimiliki peneliti maka pada penelitian ini hanya dibatasi pada aspek jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas pelayanan.

  1. Rumusan Masalah
Bagaimana mutu pelayanan kesehatan pasien rawat inap ditinjau dari aspek jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang ?”

  1. Tujuan Penelitian
    1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan pada pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang.
  1. Tujuan Khusus
  1. Untuk menganalisis hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang

  1. Manfaat Penelitian
    1. Manfaat Ilmiah
    2. Manfaat Institusi
    3. Manfaat Bagi Peneliti


KEPUSTAKAAN

  1. Tinjauan Umum Tentang Mutu Pelayanan Kesehatan
  2. Tinjauan Umum Tentang Rumah Sakit
  3. Tinjauam Umum Tentang Variabel Yang Diteliti

KERANGKA KONSEP

  1. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian
Beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan akan dijelaskan sebagai berikut.
  1. Jumlah Petugas
Jumlah petugas merupakan salah satu aspek yang menunjang pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Keadaan petugas yang kurang menyebabkan penyelenggaraan pelayanan dilaksanakan tidak maksimal dan kurang memenuhi kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan. Selain itu, petugas sendiri akan mengalami kewalahan dalam menjalankan tugasnya yang pada nantinya akan menurunkan tingkat kemampuan kerja yang diberikan petugas kepada pasien di rumah sakit.
  1. Ketanggapan petugas
Ketanggapan petugas berhubungan dengan aspek kesigapan dari petugas dalam memenuhi kebutuhan pasien akan pelayanan yang dinginkan. Tingkat kesigapan dari petugass kesehatan dalam memberikan pelayanan merupakan salahs atu aspek yang mempengaruhi penilaian pasien atas mutu pelayanan yang diselenggarakan.
  1. Kehandalan petugas
Kehandalan berhubungan dengan tingkat kemampuan dan keterampilan yang dimiliki petugas dalam menyelenggarakan dan memberikan pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Tingkat kemampuan dan keterampilan yang kurang dari tenaga kesehatan tentunya akan memberikan pelayanan yang kurang memenuhi kepuasan pasien sebagai standar penilaian terhadap mutu pelayanan.
  1. Ketersediaan dan kelengkapan fasilitas
Fasilitas merupakan sarana bantu bagi instansi dan tenaga kesehatan dalam menyelenggarakan pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Keadaan fasilitas yang memadai akan membantu terhadap penyelenggaraan pelayanan kepada pasien.

  1. Pola Pikir Variabel Penelitian
Berdasarkan dasar pemikiran yang telah dijelaskan sebelumnya di atas maka dapat disusun bagan pemikiran variabel penelitian sebagai berikut













Keterangan
: Variabel independen
: Variabel dependen

  1. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
  1. Mutu Pelayanan Kesehatan
  2. Jumlah Petugas
  3. Ketanggapan Petugas
  4. Kehandalan Petugas
  5. Ketersediaan/Kelengkapan Fasilitas
  1. Hipotesis Penelitian
  1. Hipotesis Null (Ho)
  1. Tidak ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
  1. Hipotesis Alternatif (Ha)
  1. Ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang

METODE PENELITIAN

  1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan analitik rancangan Cross Sectional Study
  1. Populasi dan Sampel
  1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kab Enrekang yang telah mendapatkan perawatan
  1. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah sebahagian dari populasi yang ditentukan berdasarkan teknik pengambilan sampel secara proporsional stratified random sampling dengan penentuan besar sampel menggunakan rumus sebagai berikut.
n =
Dimana :
n = besarnya sampel dalam penelitian
N = besarnya populasi dalam penelitian
d = tingkat kepercayaan (0,05)
  1. Pengumpulan Data
  1. Data Primer
Data primer diperoleh dengan melaksanakan wawancara langsung
  1. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui instansi terkait
  1. Pengolahan dan Analisa Data
  1. Pengolahan Data
Pengolahan data penelitian dilaksanakan dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS for windows dengan langkah-langkah sebagai berikut.
  1. Tahap editing dilakukan dengan tujuan agar data yang diperoleh merupakan informasi yang benar. Pada tahap ini dilakukan dengan memperhatikan kelengkapan jawaban dan jelas tidaknya jawaban
  2. Pengkodean dimaksudkan untuk menyingkat data yang diperoleh agar memudahkan dalam pengolahan dan menganalisis data dengan memberikan kode dalam bentuk angka. Berdasarkan perhitungan Skala Likert dimana setiap jawaban “Selau” diberi nilai 5, “Sering” diberi nilai 4, kadang-kadang diberi nilai 3, “Pernah” diberi nilai 2 dan jika jawaban “Tidak Pernah” diberi nilai 1.
  3. Pembuatan/pemindahan hasil koding kuesioner ke daftar koding (master tabel)
  1. Analisa Data
Analisis data ditujukan untuk mengetahui hubungan variabel independen dengan variabel dependen dengan menggunakan uji Chi Square Test dengan rumus sebagai berikut :
X2 =
Dimana :
O = nilai observasi
E = Nilai ekspektasi (harapan)
df = (c – 1) (r – 1)
Hasil uji statistik dikatakan bermakna jika nilai p < α – 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Jika nilai ekspektif kurang dari 5 maka uji statistik dengan menggunakan rumus Fisher’s Exact Test yaitu :
    1. Penyajian Data
Data yang telah diolah kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi analisis univariat dan tabel silang analisis bivariat dalam rangka menganalisis hubungan variabel independen terhadap variabel dependen.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian
  1. Karakteristik Responden
  1. Umur
Responden tertinggi berada pada kelompok umur 20 – 29 tahun sebanyak 57 (55,9%) dan terendah pada kelompok umur <>
  1. Jenis Kelamin
Responden terbanyak adalah perempuan sebanyak 56 (54,9%).
  1. Pendidikan
Responden tertinggi telah menamatkan pendidikan pada jenjang SMA sederajat sebanyak 52 (51%) dan terendah tidak sekolah dan SMP masing-masing sebanyak 7 (6,9%).
  1. Pekerjaan
Responden tertinggi dengan status tidak bekerja/URT sebanyak 35 (34,3%) sedangkan yang bekerja tertinggi sebagai wiraswasta sebanyak 31 (30,4%) dan terendah yang bekerja sebagai pegawai swasta sebanyak 3 (2,9%).
  1. Variabel Penelitian
  1. Jumlah Petugas
Lebih dominan responden menyatakan jumlah petugas yang memberikan pelayanan di rumah sakit sudah berada pada kategori cukup sebanyak 64 (62,7%).
  1. Ketanggapan Petugas
Lebih dominan responden menyatakan ketanggapan petugas dalam memberikan pelayanan di rumah sakit sudah berada pada kategori cukup tanggap sebanyak 71 (69,6%).
  1. Kehandalan Petugas
Lebih dominan responden menyatakan kehandalan petugas dalam memberikan pelayanan di rumah sakit sudah berada pada kategori cukup handal sebanyak 66 (64,7%).
  1. Ketersediaan Fasilitas/Sarana
Lebih dominan responden menyatakan ketersediaan fasilitas / sarana pelayanan di rumah sakit sudah berada pada kategori cukup tersedia sebanyak 53 (52%).
  1. Mutu Pelayanan Kesehatan
Lebih dominan responden menyatakan mutu pelayanan kesehatan yang diselenggarakan di rumah sakit sudah berada pada kategori cukup sebanyak 76 (74,5%).
  1. Hubungan Variabel Penelitian
  1. Hubungan Jumlah Petugas dengan Mutu Pelayanan Kesehatan
Hasil uji statistik diperoleh nilai X2 hitung = 2,425 <>2 tabel (3,814) sehingga Ho diterima dengan interpretasi bahwa tidak terdapat hubungan pengaruh jumlah petugas terhadap mutu pelayanan kesehatan dimana banyaknya jumlah petugas bukan menjadi salah satu aspek penting bagi pasien untuk menilai kualitas pelayanan yang diselenggarakan.
  1. Hubungan Ketanggapan Petugas dengan Mutu Pelayanan Kesehatan
Hasil uji statistik diperoleh nilai X2 hitung = 6,342 > X2tabel (3,814) sehingga Ho ditolak dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan pengaruh ketanggapan petugas terhadap mutu pelayanan kesehatan dimana banyaknya respon petugas yang cekatan dalam memberikan pelayanan merupakan unsur yang mempengaruhi penilaian pasien atas kualitas pelayanan yang diselenggarakan.
  1. Hubungan Kehandalan Petugas dengan Mutu Pelayanan Kesehatan
Hasil uji statistik diperoleh nilai X2 hitung = 5,259 > X2tabel (3,814) sehingga Ho ditolak dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan pengaruh kehandalan petugas terhadap mutu pelayanan kesehatan dimana banyaknya kemampuan kerja dari petugas menjadi salah satu aspek penting bagi pasien untuk menilai kualitas pelayanan yang diselenggarakan.
  1. Hubungan Ketersediaan Fasilitas/Sarana dengan Mutu Pelayanan Kesehatan
Hasil uji statistik diperoleh nilai X2 hitung = 8,763 > X2tabel (3,814) sehingga Ho ditolak dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan pengaruh ketersediaan fasilitas/sarana pelayanan terhadap peruwujudan mutu pelayanan kesehatan dimana semakin baik fasilitas pelayanan yang tersedia maka akan mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara maksimal dan memenuhi kepuasan pasien.

  1. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengumpulan data penelitian yang telah disajikan sebelumnya di atas maka dapat dibahas berdasarkan tujuan penelitian sebagai berikut.
  1. Hubungan Jumlah Petugas dengan Mutu Pelayanan Kesehatan
Ketersediaan dan kebersinambungan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan tidak hanya memperhitungkan ketersediaan sarana saja seperti rumah sakit, puskesmas atau posyandu namun perlu juga memperhitungkan aspek ketenagakerjaan dalam bidang kesehatan dalam hal pelaksana dan penggerak pelayanan. Salah satu syarat penyelenggaraan pelayanan kesehatan adalah tersedianya tenaga pelaksana dalam jumlah yang cukup. Aspek kekurangan tenaga merupakan salah satu masalah yang seringkali dihadapi oleh sarana pelayanan kesehatan terutama rumah sakit sebagai akibat dari kebijakan zero growth sehingga mereka yang telah pensiun sulit untuk digantikan. Dampak dari kekurangan tenaga ini mengakibatkan beban kerja menjadi bertambah sehingga pada akhirnya mutu pelayanan yang diberikan jadi menurun. Hal ini dapat menjadi lingkaran setan yang berkepanjangan yang dapat membuat frustasi manajemen rumah sakit.
Keadaan jumlah ketenagaan pada setiap ruangan berdasarkan hasil pengumpulan data penelitian menunjukkan bahwa sudah dominan pada kategori cukup yang memberi gambaran bahwa ketersediaan ketenagaan sudah dapat menckupi pemenuhan kebutuhan pelayanan yang memuaskan pasien baik di kelas I (20,3%), kelas II (23,4%), kelas III (20,3%), ICU (17,2%) dan kebidanan (18,8%).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masih terdapat responden penelitian yang menyatakan jumlah petugas pada kategori kurang (37,3%) yang memberi indikasi bahwa pada beberapa kejadian masih terdapat beberapa pasien rumah sakit yang belum terlayani secara maksimal. Hal ini disebabkan karena adanya berbagai kesibukan yang dimiliki tenaga perawat dalam melaskanakan berbagai kegiatan pelayanan sehingga memiliki waktu yang kurang untuk memenuhi seluruh kebutuhan pasien yang serba beragam.
Kurangnya jumlah petugas pada instansi pelayanan kesehatan khususnya rumah sakit akan berdampak pada pemenuhan kebutuhan pelayanan secara maksimal yang tentunya akan berdampak pada kualitas pelayanan. Sebagaimana hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang menyatakan jumlah petugas yang cukup dalam memberikan pelayanan lebih dominan terdistribusi pada mutu pelayanan kesehatan cukup sebanyak 51 (79,7%) sedangkan responden yang menyatakan jumlah petugas kurang lebih dominan pula terdistribusi pada mutu pelayanan kesehatan cukup sebanyak 25 (65,8%).
Hasil penelitian memberi indikasi bahwa dengan adanya jumlah ketenagaan di rumah sakit termasuk perawat sebagai penyelenggara pelayanan keperawatan akan membantu dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dan beragam, dalam artian memenuhi kepuasan pasien berupa pelayanan yang berkualitas.
Hubungan jumlah petugas terhadap mutu pelayanan kesehatan berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai X2 hitung = 2,425 <>2 tabel (3,814) sehingga Ho diterima dengan interpretasi bahwa tidak terdapat hubungan pengaruh jumlah petugas terhadap mutu pelayanan kesehatan dimana banyaknya jumlah petugas bukan menjadi salah satu aspek penting bagi pasien untuk menilai kualitas pelayanan yang diselenggarakan.
Tidak terdapatnya hubungan jumlah petugas terhadap mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Massenrempulu Enrekang memberi indikasi akan adanya aspek tertentu yang mempengaruhi tingkat kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan rumah sakit. Hal ini biasanya berhubungan dengan aspek kemampuan kerja yang dimiliki petugas dimana aspek ini merupakan unsur utama terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan sehingga pasien tidak memperhitungkan aspek banyaknya petugas namun lebih diarahkan pada pelayanan yang diterima oleh petugas yang memberikan kepuasan.
  1. Hubungan Ketanggapan Petugas dengan Mutu Pelayanan Kesehatan
Ditinjau dari pembagian ruangan di tempat penelitian, ketanggapan petugas sudah dominan pada kategori cukup sehingga sudah memberikan kepuasan pasien atas tingkat kecermatan dari petugas dalam memberikan pelayanan baik kelas I (21,1%), kelas II (21,1%), kelas III (18,3%), ICU (18,3%) dan kebidanan (19,7%).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masih terdapat responden yang menyatakan ketanggapan petugas pada kategori kurang (41%). Jika ditinjau secara lebih mendalam bahwa angka pencapaian tersebut cukup tinggi mendekati angka cukup dan hal ini tentunya perlu mendapat perhatian khusus.
Kurangnya ketanggapan yang dimiliki petugas kesehatan di rumah sakit termasuk perawat yang memberikan pelayanan kepada pasien dapat mempengaruhi kualitas pelayanan yang diselenggarakan. Sebagaimana hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang menyatakan ketanggapan petugas pada kategori cukup dominan terdistribusi pada mutu pelayanan kesehatan cukup sebanyak 58 (81,7%) sedangkan responden yang menyatakan ketanggapan petugas kurang baik dominan pula terdistribusi pada mutu pelayanan kesehatan pada kategori cukup sebanyak 18 (58,1%).
Hubungan ketanggapan petugas terhadap perwujudan pelayanan yang berkualitas berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai X2 hitung = 6,342 > X2 tabel (3,814) sehingga Ho ditolak dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan pengaruh ketanggapan petugas terhadap mutu pelayanan kesehatan dimana banyaknya respon petugas yang cekatan dalam memberikan pelayanan merupakan unsur yang mempengaruhi penilaian pasien atas kualitas pelayanan yang diselenggarakan.
Terdapatnya hubungan ketanggapan petugas terhadap perwujudan mutu pelayanan yang cukup memberi indikasi bahwa berbagai upaya peningkatan kemampuan kerja dan respon semangat kerja kepada petugas termasuk perawat dirumah sakit perlu mendapat perhatian yang dapat dilakukan dengan pemberian pelatihan dalam pelayanan kesehatan yang disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat akan pelayanan yang lebih berkualitas.
  1. Hubungan Kehandalan Petugas dengan Mutu Pelayanan Kesehatan
Ditinjau dari aspek ruangan berdasarkan hasil pengumpulan data penulis menunjukkan bahwa kehandalan yang dimiliki petugas pada tiap ruang dominan sudah berada pada kategori cukup baik kelas I (19,7%), kelas II (22,7%), kelas III (19,7%), ICU (18,2%) dan kebidanan (19,7%) yang memberi gambaran bahwa petugas pada masing-masing ruangan telah memberikan pelayanan yang maksimal berdasarkan kemampuan latar belakang keilmuannya dan memberikan kepuasan.
Kehandalan petugas pada penelitian ini didasarkan atas penilaian pasien pada aspek pemeriksaan pasien yang dilakukan secara teratur, memberikan penjelasan pada awal sebelum melaksankan tindakan, memberi dorongan moril dalam hal kesembuhan, cekatan dalam melaksanakan berbagai tindakan dan mampu menyelesaikan tugas secara mandiri.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masih terdapat pasien yang menyatakan kehandalan petugas pada kategori kurang (35,3%). Hal ini memberi indikasi bahwa pada beberapa kasus masih terdapat petugas termasuk perawat yang memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar pelayanan terutama tidak memenuhi kebutuhan dan kepuasan pasien.
Kurangnya kehandalan dari petugas memberi indikasi akan kurangnya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dan tentunya akan mempengaruhi kualitas pelayanan yang diselenggarakan. Sebagaimana hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang menyatakan kehandalan petugas pada kategori cukup dominan terdistribusi pada mutu pelayanan kesehatan pada kategori cukup sebanyak 54 (81,8%) sedangkan responden yang menyatakan kehandalan petugas yang kurang baik dominan pula terdistribusi pada mutu pelayanan kesehatan pada kategori cukup sebanyak 22 (61,1%).
Hubungan kehandalan petugas terhadap perwujudan mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Massenrempulu Enrekang berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai X2 hitung = 5,259 > X2 tabel (3,814) sehingga Ho ditolak dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan pengaruh kehandalan petugas terhadap mutu pelayanan kesehatan dimana banyaknya kemampuan kerja dari petugas menjadi salah satu aspek penting bagi pasien untuk menilai kualitas pelayanan yang diselenggarakan.
  1. Hubungan Ketersediaan Fasilitas/Sarana dengan Mutu Pelayanan Kesehatan
Jika ditinjau pada aspek ruangan ketersediaan fasilitas/sarana yang cukup pada ruang kelas I (22,6%), kelas II (18,9%), kelas III (22,6%), ICU (18,9%) dan kebidanan (17%) yang memberi gambaran bahwa pada pasien setiap ruangan telah merasa puas atas ketersediaan fasilitas / sarana penunjang pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masih terdapat pasien yang menyatakan ketersediaan fasilitas/sarana pelayanan di Rumah Sakit Umum Massenrempulu Enrekang pada kategori kurang (48%) yang jika ditinjau dari angka pencapaian tersebut memberi indikasi bahwa berbagai jenis pelayanan yang diselenggarakan di rumah sakit belum terpenuhi secara efektif dan efisien. Hal ini disebabkan karena ketersediaan sarana/fasilitas tersebut akan membantu kemudahan petugas dalam memberikan pelayanan.
Kurang tersedianya fasilitas/sarana pelayanan di Rumah Sakit Umum Massenrempulu Enrekang disebabkan karena rumah sakit sedang melaksanakan pembenahan diri secara fisikal dimana lokasi rumah sakit yang berpindah tempat dengan menduduki gedung baru sehingga pada saat penelitian berlangsung, aspek ketersediaan fasilitas belum terpenuhi secara maksimal dan ditambah lagi dengan perubahan status rumah sakit menjadi tipe C sehingga upaya pembenahan yang dilakukan pun semakin besar sedangkan untuk melakukan hal tersebut tentunya akan membtuhkan waktu.
Dampak dari kekurangtersediaan fasilitas/sarana pelayanan di rumah sakit berupa penurunan kualitas kerja dari tenaga kesehatan tentunya akan berdampak pula pada penurunan mutu pelayanan. Sebagaimana hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menyatakan ketersediaan fasilitas cukup dominan terdistribusi pada mutu pelayanan kesehatan pada kategori cukup sebanyak 46 (86,8%) sedangkan responden yang menyatakan ketersediaan fasilitas/sarana pada kategori kurang dominan pula terdistribusi pada mutu pelayanan kesehatan pada kategori cukup sebanyak 30 (61,2%).
Hubungan ketersediaan fasilitas pelayanan dengan perwujudan mutu pelayanan berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai X2 hitung = 8,763 > X2 tabel (3,814) sehingga Ho ditolak dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan pengaruh ketersediaan fasilitas/sarana pelayanan terhadap peruwujudan mutu pelayanan kesehatan dimana semakin baik fasilitas pelayanan yang tersedia maka akan mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara maksimal dan memenuhi kepuasan pasien.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengumpulan, pengolahan dan penyajian data penelitian sebelumnya di atas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
  1. Tidak terdapat hubungan jumlah petugas dengan perwujudan mutu pelayanan kesehatan dimana banyaknya petugas bukan menjadi unsur utama penilaian pasien terhadap kepuasan pelayanan yang diberikan
  2. Terdapat hubungan ketanggapan petugas dengan perwujudan mutu pelayanan kesehatan dimana petugas yang memiliki ketanggapan yang tinggi akan meningkatkan kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan
  3. Terdapat hubungan kehandalan petugas dengan perwujudan mutu pelayanan kesehatan dimana petugas yang memiliki kehandalan yang tinggi akan meningkatkan kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan
  4. Terdapat hubungan ketersediaan fasilitas/sarana dengan perwujudan mutu pelayanan kesehatan dimana rumah sakit yang memiliki ketersediaan fasilitas/sarana yang cukup memadai akan mendukung pelayanan yang memberikan kepuasan kepada pasien.

  1. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dijelaskan sebelumnya di atas maka saran yang diajukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
  1. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan kepuasan pasien atas pelayanan yang berkualitas maka diperlukan ketanggapan dan kehandalan petugas yang memenuhi syarat yang dapat diwujudkan melalui pemberian pelatihan dan peningkatan jenjang pendidikan yang dimiliki petugas
  2. Selain itu, upaya penambahan jenis fasilitas dan sarana pelayanan kesehatan juga perlu mendapat perhatian dengan lebih mengutamakan jenis sarana pelayanan yang sangat dibutuhkan oleh pasien dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas dan memuaskan.


DAFTAR PUSTAKA

Aditama. Tjandra Yoga. Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Universitas Indonesia Press. Jakarta, 2002.

Ahmad Djojosugito, Kebijakan Pemerintah Dalam Pelayanan Kesehatan Menyongsong AFTA 2003, Pusat Data dan Informasi PERSI, Jakarta, 2001.

Azwar. Azrul. Pengantar Administrasi Kesehatan. Binarupa Aksara. Jakarta. 1996.

, Menjaga Mutu Pelayanan KesehatanPustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996.

Boy S, Sabarguna, Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit, Penerbit Konsorsium Rumah Sakit Islam Jateng DI Yogyakarta, 2004.

Depkes RI, Rancangan Pembangunan Kesehatan 2005, Jakarta, 2005.

Depkes RI, Standar Pelayanan Rumah SakitCetakan IV, Jakarta, 1996.

Renstra Pembangunan Kesehatan 2005 - 2009, Jakarta, 2005.

Effendy. Nasrul. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Edisi Kedua. EGC : Jakarta, 1998.

Eli Nurachma, Asuhan Keperawatan Bermutu Di Rumah Sakit, Jurnal Keperawatan dan Penelitian Kesehatan, Jakarta, 2007.

Entjang. I.. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT. Citra Aditya Bakti. Jakarta, 2003.

Guwandi. Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit. Rineka Cipta. Jakarta, 1991.

Laksono Trisantoro, Good Governance dan Sistem Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan, Surabaya, 2005.

Muninjaya, I Gede, Manajemen Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2003.

Riyadi, Slamet, Manajemen Pelayanan Kesehatan, Rhineka Cipta, Jakarta, 1982.

Rusli Ngatimin, Upaya Menciptakan Masyarakat Sehat Di Pedesaan, Pascasarjana UNHAS, Makassar, 1987.

Mengukur perilaku Kesehatan Masyarakat, Ujung Pandang, 1996.

Siti Fadilah Supari, Indonesia Masih Menghadapi Mutu Pelayanan Kesehatan Yang Rendah, Gizinet, Jakarta, 2005.

Soekidjo Notoatmodjo, Metodologi Penelitian KesehatanPenerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1997.

Ilmu Kesehatan Masyarakat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1997.

Sugiono, Metode Penelitian AdministrasiCV Alfabeta, Bandung, 2000.

Sudarmono, Mutu Harus Ditingkatkan, Kompas Cyber Media, Jakarta, 01 Juli 2005.

Organisasi Yang Terlupakan, Kompas Cyber Media, Jakarta, 29 September 2006.

Wijono. Djoko, Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan, Vol. 1. Airlangga University Press, Surabaya, 1999.


Dokumen Selengkapnya dapat menghubungi
085242854524
Blog : http://blogjoeharno.blogspot.com
a.n. Rhano

Sabtu, 01 Maret 2014

SISTEM INFORMASI KESEHATAN DI PUSKESMAS


 SISTEM INFORMASI KESEHATAN DI PUSKESMAS CIGEUREUNG
KOTA TASIKMALAYA PROVINSI JAWA BARAT


ABSTRAK
Rekam medis mempunyai pengertian yang sangat luas, tidak hanya sekedar
kegiatan pencatatan, akan tetapi mempunyai pengertian sebagai suatu sistem
penyelenggaraan rekam medis yaitu mulai pencatatan selama pasien mendapatkan
pelayanan medik, dilanjutkan dengan penanganan berkas rekam medis yang
meliputi penyelenggaraan penyimpanan serta pengeluaran berkas dari tempat
penyimpanan untuk melayani permintaan maupun peminjaman dari pasien atau
untuk keperluan lainnya. Rekam medis mempunyai dua bagian yang perlu
diperhatikan yaitu bagian pertama adalah tentang individu yaitu suatu informasi
tentang kondisi kesehatan dan penyakit pasien yang bersangkutan dan sering
disebut pateint record, bagian kedua adalah tentang manajemen merupakan suatu
informasi tentang pertanggungjawaban apakah dari segi manajemen maupun
keuangan dari kondisi kesehatan dan penyakit pasien yang bersangkutan. Rekam
medis di Puskesmas merupakan salah satu sumber data penting yang nantinya
akan diolah menjadi informasi. Pengisian rekam medis di Puskesmas Ciegeurung
Kota Tasikmalaya dimulai di Unit Pendaftaran dengan menggunakan
komputerisasi, selanjutnya pasien langsung menuju ke tempat dia mau diperiksa,
sementara identitas pasien sudah langsung terkirim ke semua ruangan di
Puskesmas. Oleh tenaga kesehatan, pasien tersebut dianamnesia dan diperiksa
serta kalau dibutuhkan dilakukan pemeriksaan penunjang. Akhirnya dilakukan
penegakkan diagnosa dan sesuai kebutuhan, pasien tersebut diberi obat atau
tindakan medis lainnya. Sehingga untuk rekam medik para perawat tinggal
melihat dari komputer berapa jumlah pasien, apa yang diberikan, apakah pasien
lama atau baru dan lain sebagainya.

Kata kunci: Rekam medis, sistem informasi kesehatan

 BAB I
PENDAHULUAN
Salah satu upaya untuk mencapai Indonesia Sehat Tahun 2010 adalah
upaya untuk meningkatkan dan memelihara pelayanan kesehatan yang bermutu,
merata dan terjangkau. Untuk mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan
tersebut, perlu dukungan tenaga kesehatan yang berkualitas dan profesional,
seperti tercantum dalam Undang-Undang RI No. 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan, pasal 32 ayat 4 dinyatakan bahwa pelaksanaan pengobatan dan atau
perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan atau ilmu keperawatan, hanya dapat
dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan.
Salah satu tenaga kesehatan yang menunjang terhadap keberhasilan pencapain
Indonesia Sehat tersebut adalah Perawat.
Untuk itu perawat sebagai bagian dari tenaga kesehatan secara menyeluruh
berkontribusi pada pelayanan kesehatan melalui praktik keperawatan. Praktik
keperawatan merupakan suatu tindakan keperawatan profesional yang dilandasi
oleh kaidah ilmu pengetahuan, kode etik dan etika keperawatan, yang merupakan
pedoman bagi perawat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,
sehingga dapat menjamin masyarakat mendapatkan pelayanan yang bertanggung
jawab dan etis.
Bentuk pelayanan yang bertanggung jawab dan etis tidak hanya
memberikan langsung pelayanan keperawatan ke pasien dalam bentuk
memberikan preventif, tindakan keperawatan maupun kuratif. Namun selain hal
tersebut ada hal yang termasuk salah satu indikator pelayanan yang bertanggung
jawab dan etis adalah dalam hal dokumentasi atau catatan pasien. Dalam
melaksanakan dokumentasi kepada pasien selain harus bertanggung jawab juga
sebagai bentuk untuk mengantisipasi tanggung gugat dari pasien.
Dewasa ini pencatatan dokumentasi atau rekam medik pasien banyak yang
sudah menggunakan alat bantu modern yaitu dengan menggunakan komputer.
Namun hal tersebut belum semua melaksanakannya, tentunya dengan berbagai alasan. Baik karena dana yang belum mencukupi, sumber daya manusia yang
belum memadai dan lain sebagainya.
Penggunaan catatan pasien yang terkomputerisasi (computerized patient
records) yang berkembang pesat, membutuhkan bahasa yang baku dalam
menggambarkan masalah-masalah pasien. Diagnosis keperawatan melengkapi
kebutuhan tersebut dan membantu menetapkan lingkup praktik keperawatan,
dengan menggambarkan kondisi perawat yang dapat merawat secara mandiri.
Diagnosis keperawatan menyertakan pemikiran kritis dan pembuatan keputusan,
serta menyediakan istilah yang dipahami secara universal dan konsisten diantara
para perawat yang bekerja pada beragam tempat, termasuk rumah sakit, klinik
rawat jalan, fasilitas perawatan lain, fasilitas kesehatan okupasi, dan praktik
pribadi maupn swasta. (Doenges et al. 1999)
Penggunaan catatan komputerisasi ini sudah banyak di lakukan di Rumah
sakit-sakit besar baik swasta maupun pemerintah, namun ada juga sebagian kecil
beberapa puskesmas yang sudah menggunakan dokumentasi secara komputerisasi
salah satunya Puskesmas di kota Tasikmalaya Jawa Barat yaitu Puskesmas
Cigeureung. Puskesmas ini sudah mulai menggunakan komputerisasi dalam
melayani pasien, sehingga data pasien akan selalu tersimpan dalam komputer. Hal
ini merupakan inisiatif dari perorangan bukan perintah langsung dari Dinas
Kesehatan Kota Tasikmalaya. Sehingga semua operasionalnya dibebankan kepada
puskesmas tersebut.
Namun setelah berhasil dan semua puskesmas membandingkan hasil dan
kinerjanya, maka semua puskesmas mulai mau menggunakan komputer. Namun
tentunya karena ini hak paten puskesmas Cigeureung maka semua puskesmas
yang mau memakainya harus membeli hak peten tersebut. Sampai saaat ini dari
depalan puskesmas yang ada di dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, baru tiga
puskesmas yang sudah menggunakan kompuretisasi dalam memberikan
pelayanan pada masyarakat.
 A. Tujuan
1. Tujuan Umum :
Setelah menyusun makalah ini diharapkan penulis mampu mengalisis
system informasi : Sistem Informasi Manajemen di Puskesmas
Cigeureung Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat

2. Tujuan khusus
a. Meningkatkan pemahaman tentang teknologi informatika di
Puskesmas.
b. Dapat memberikan masukan tentang penggunaan teknologi
informatika di puskesmas khususnya puskesmas Cigeureung
Tasikmalaya, terutama bagi perawat yang berdinas di tempat tersebut.


B. Sistematika Penulisan
Sistematikan penulitas makalah ini, terdiri atas :
Bab I : Pendahuluan, berisi : latar belakang, tujuan penulisan makalah, dan
sistematika penulisan
Bab II : Tinjauan teoretis Sistem Informasi Manajemen di Puskesmas
Bab III : Pembahasan
Bab IV : Kesimpulan dan saran






 BAB II
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PUSKESMAS

A. Sistem Informasi
1. Pengertian
Menurut Jogianto, sistem informasi didefinisikan sebagai suatu sistem di
dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan
transaksi harian, mendukung informasi yang bersifat manajerial dan
kegiatan strategi dari suatu organisasi, dan menyediakan pihak luar
tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.

2. Fungsi utama sistem informasi adalah untuk :
a. Mengambil sebagai input atau merupakan data capturing, artinya
perekaman data dari suatu peristiwa atau kejadian di dalam beberapa
formulir seperti bukti tindakan medis dan bukti pelayanan penunjang
(radiologi dan laboratorium).
b. Mengolah, mentransformasi, dan mengkonversi data menjadi informasi.
c. Mendistribusikan informasi (reporting / disseminating) kepada para
pemakai.

3. Sumber Daya Informasi
 Sumber daya informasi dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu
perangkat keras komputer, perangkat lunak komputer, spesialis informasi,
pemakai, fasilitas, database, dan informasi. Ketika para manajer suatu
organisasi memutuskan untuk menggunakan informasi untuk mencapai
keunggulan kompetitif, mereka harus menyadari tiap elemen tersebut
sebagai sumber daya informasi.

 4. Kualitas Informasi.
 Kebutuhan informasi merupakan hal yang penting untuk
mendukung kegiatan manajemen dan sebagai dasar pengambilan
keputusan oleh pihak manajer, sehingga diperlukan suatu informasi
mempunyai kualitas.

B. Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen merupakan cara-cara mengelola
pekerjaan informasi dengan menggunakan pendekatan sistem yang
berdasarkan prinsip-prinsip manajemen. Pekerjaan informasi adalah
pekerjaan yang meliputi pengumpulan data, penyebaran data dengan
meneruskannya ke unit lain. Pada unit kerja yang baru informasi tersebut
dapat langsung digunakan, atau dapat juga dianggap data baru untuk diolah
lagi menjadi informasi sesuai keperluan unit bersangkutan. Dengan
beredarnya informasi dari unit satu ke unit lain maka terjadilah arus informasi
atau hubungan informasi antar unit.


Di bawah ini merupakan alur yang biasa dipakai pada manajemen puskesmas
ketika pasien datang melakukan kunjungan. Yaitu pasien masuk ke ruangan
pendaftaran kemudian ditanya identitas dan keluhannya, kemudian ditulis
dibuku pasien, selanjutnya pasien diberi selembar kertas atau kartu yang
kemudian dibawa ke ruangan pemeriksaan. Di ruangan pemeriksaan terapi
dituliskan kemudian ditandatangani oleh yang memberi tindakan dan pasien
di suruh ke ruaang obat untyuk mengambil obatnya sambil menyerahkan
kartunya. Setelah pasien pulang maka para perawat mengumpulkan dan
menghitung jumlah kartu dari pasien kemudian diklasifikasikan mana yang
penyakit menular, kesehatan ibu an anak dan lain sebagainya untuk
selanjutnya ditulis di buku buku laporan Puskesman.


Namun diagram yang dilakukan oleh puskesmas Cigeureung Kota Tasikmalaya
adalah mereka tidak lagi menggunakan kertas untuk dibawa pasien ke tiap bagian
karena data data semua pasien sudah masuk ke tiap ruangan yang akan dituju oleh
pasien seperti pada bagan berikut : identitas pasien sudah langsung ditulis di
komputer yang kemudian langsung dpat terkirimke semua ruangan yang akan
dilalui oleh pasien, sehingga ketiks pasien berada di ruang pemeriksaan , petugas
tidak menannyakan kembali hal yang sudah ada namun langsung melakukan
tindakan.




Pasien










Pasien
datang

pendaftaran
R. TBC
R. KIA
R Lansia
R. BP umum
R. obat C. Pengertian Rekam Medis
 Rekam medis adalah keterangan baik yang tertulis maupun terekam
tentang identitas, anamnesa, penentuan fisik, laboratorium, diagnosa segala
pelayanan dan tindakan medik yang diberikan kepada pasien dan pengobatan
baik yang dirawat inap, rawat jalan maupun yang mendapatkan pelayanan
gawat darurat. Rekam medis mempunyai pengertian yang sangat luas, tidak
hanya sekedar kegiatan atau pencatatan, akan tetapi mempunyai pengertian
sebagai suatu sistem penyelenggaraan rekam medis yaitu mulai pencatatan
selama pasien mendapatkan pelayanan medik, dilanjutkan dengan
penanganan berkas rekam medis yang meliputi penyelenggaraan
penyimpanan serta pengeluaran berkas dari tempat penyimpanan untuk
melayani permintaan maupun peminjaman dari pasien atau untuk keperluan
lainnya
 Rekam medis mempunyai dua bagian yang perlu diperhatikan yaitu
bagian pertama adalah tentang individu yaitu suatu informasi tentang kondisi
kesehatan dan penyakit pasien yang bersangkutan dan sering disebut patient
record, bagian kedua adalah tentang manajemen yaitu suatu informasi tentang
pertanggungjawaban apakah dari segi manajemen maupun keuangan dari
kondisi kesehatan dan penyakit pasien yang bersangkutan.
 Rekam medis juga merupakan kompilasi fakta tentang kondisi
kesehatan dan penyakit seorang pasien yang meliputi : data terdokumentasi
tentang keadaan sakit sekarang dan waktu lampau, pengobatan yang telah dan
akan dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional secara tertulis. Secara
umum, informasi yang tercantum dalam rekam medis seorang pasien harus
meliputi yaitu Siapa pasien tersebut dan Siapa yang memberikan pelayanan
kesehatan atau medis, Apa, Kapan, Kenapa dan Bagaimana pelayanan
kesehatan atau medis diberikan, hasil akhir atau dampak dari pelayanan
kesehatan dan pengobatan.


 D. Dimana memulai pengisian rekam medis
 Rekam medis mulai diisi saat seorang pasien atau klien datang ke
fasilitas kesehatan meminta bantuan untuk memecahkan masalah
kesehatannya. Pengisian rekam medis dimulai dengan pengisian format
informasi identitas pasien atau klien, dan format ini biasanya diletakkan pada
halaman terdepan dari dokumen rekam medis dan merupakan bagian dari
patient record.
 Format informasi tentang identitas pasien atau klien, biasanya berisi
nama, umur, jenis kelamin, status pernikahan, alamat dan lain-lain. Seluruh
format dalam rekam medis harus diisi sesuai kebutuhannya dan setiap tenaga
kesehatan yang melakukan pemeriksaan, pelayanan medis, konsultasi dan
sebagainya harus mencantumkan nama jelas dan tanda tangannya.
 Dari Patient record tersebut, setiap sarana kesehatan harus melakukan
rekapitulasi dari semua variable yang dibutuhkan. Kegiatan ini merupakan
bagian dari kegiatan rekam medis di bidang manajemen. Variabel-variabel
yang direkapitulasi antara lain:
- Berapa banyak pasien yang datang ke sarana kesehatan tersebut setiap hari,
setiap bulan dan setiap tahun?
- Jenis-jenis penyakit apa sajakah yang ditangani di sarana kesehatan tersebut
( Penyakit infeksi dan tidak infeksi )
- Berapa dan Mengapa terjadi kasus kematian di sarana kesehatan tersebut ?
- Bila terjadi kasus gawat darurat, berapakah response time nya ?
- Siapa membayar pelayanan kesehatan yang diberikan? Berapa proporsinya ?
- Berapa banyak dan jenis obat yang habis setiap hari, bulan dan tahun?
 Informasi-informasi tersebut sangat dibutuhkan oleh pihak manajemen
untuk merencanakan kebutuhan sumber daya seperti tenaga kesehatan,
fasilitas, bahan habis pakai, peralatan medis dan nonmedis, kebutuhan air,
listrik, cleaning service dll agar pelayanan yang diberikan dapat optimal dan
memuaskan pelanggan.
  Rekam medis digunakan sebagai acuan pasien selanjutnya, terutama
pada saat pasien itu berobat kembali (Petunjuk Teknis Penyelenggaraan
rekam medis, 1991). Rekam medis pasien harus siap apabila pasien berobat
kembali. Tenaga kesehatan akan sulit dalam melakukan tindakan atau terapi
sebelum mengetahui sejarah penyakit, tindakan atau terapi yang pernah
diberikan kepada pasien yang terdapat di dalam berkas rekam medis. Hal
penting dalam berkas rekam medis adalah ketersediaannya saat dibutuhkan
dan kelengkapan pengisiannya.
 Kelengkapan pengisian berkas rekam medis oleh tenaga kesehatan
akan memudahkan tenaga kesehatan lain dalam memberikan tindakan atau
terapi kepada pasien. Selain itu juga sebagai sumber data pada bagian rekam
medis dalam pengolahan data yang kemudian akan menjadi informasi yang
berguna bagi pihak manajemen dalam menentukan langkah-langkah strategis
untuk pengembangan pelayanan kesehatan. Penyajian informasi harus
disesuaikan dengan nilai kegunaan, kedudukan dan fungsi masing-masing
bagian. Dokter misalnya, tidak membutuhkan laporan keuangan pelayanan
kesehatan. Begitu pula dengan manajer yang perlu mengetahui informasi
dalam bentuk laporan dan statistik dari masing masing bagian untuk
mendukung dalam pengambilan keputusan. Informasi adalah data yang telah
diolah dan dianalisa secara formal, dengan cara yang benar dan secara efektif,
sehingga hasilnya dapat bermanfaat dalam operasional dan manajemen
(Sabarguna, 2005).
 Setelah berjalan cukup lama akhirnya semua karyawan merasakan
manfaatnya dari sistem manajemen dengan menggunakan komputer. Namun
hal tersebut perlu terus diciptakan iklim motivasi yang baik. Menurut Keliat
( 2010 ) dalam manajemen keperawatan di komunitas khususnya puskesmas,
bahwa motivasi individu akan menunjukkan suatu perilaku jika perilaku
tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan memuaskan dirinya. Artinya setelah
individu merasakan manfaatnya maka akan bekerja maksimal dalam
melaksanakannya.
 BAB III
PEMBAHASAN
Secara umum rekam medik yang dilakukan di puskesmas dilakukan ketika pasien
datang ke pendaftaran, setelah itu pasien langsung diberi selembar kertas
kemudian menuju ruangan yang akan dilakukan pengobatan misalnya pasien
umum ke ruang Balai Pengobatan, sementara pasien khusus misalnya pasien TBC
ke ruang TBC, pasien KIA ke ruangan KIA dan lain sebagainya. Setelah dari
ruangan masing-masing maka mereka menuju ruangan obat untuk selanjutnya
mendapat obat.
Di pendaptaran mereka ditanta identittas berupa nama alat, umur dan lain
sebagainya. Selain itu mereka dtanya keluhan yang dirasakan. Setelah selesai
mendaftar, pasien-pasien itu ke ruangan yang mereka akan diperiksa, dan
biasanya di ruangan tersebut mereka ditanya lagi kadang hampir sama seperti di
ruang pendaftaran. Baru setelah itu dilakukan pengobatan.
Namun yang dilakukan di puskesmas Cigeureung sudah mulai selangkah lebih
maju. Puskesmas ini atas inisiatif kepala puskesmas mulai menggunakan
komputerisasi. Di setiap ruangan sudah ada komputeri yang semua saling
berhubungan. Ketika pasien datang maka bagian pendaftaran menulis di komputer
identitas dan keluhan pasien. Misalnya pasien TBC maka setelah ditulis oleh
bagian pendaftaran maka otomatis identitas pasien tersebut langsung masuk ke
komputer di ruang TBC. Sehingga ketika pasien datang ke ruangan tidak usah
menanyakan kembali identitas dan lain sebabagainya tapi langsung memberikan
peawatan dan pengobatan TBC. Perawat bagian TBC menulis di komputer apa
yang akan diberikan tindakan dan obatnya, maka laporan tersebut sudah masuk ke
komputer bagian obat sehingga bagian obat langsung mempersiapkan obat yang
diperlukan pasien. Sehingga ketika beres obat, maka bagian obat tinggal
memanggil pasien untuk diberikan obat.
Keuntungan dari sistem ini adalah dari satu sumber pendaftaran maka identitas
pasien langsung masuk ke ruangan yang dituju. Di bagian bagian ruangan tersebut sudah ada data pasien yang muncul, sehingga apabila pasien lama maka data-data
sebelumnya sudah ada di komputer tinggal mengevaluasi tindakan , obat yang
telah diberikan sebelumnya.
Keuntungan dari sistem ini adalah yang pertama waktu pengumpulan data terkait
identitas dan keluhan yang dirasakan pasien lebih singkat sehingga akan lebih
berfokus kepada tindakan keperawatan/medis pada pasien. Kemudian yang kedua
data-data yang ada pada hari itu sudah langsung terekam di komputer sehingga
ketika akhir dinas pagi tersebut sudah dapat diketahui berapa pasien seluruhnya,
berapa yang ke TBC, berapa yang ke Gizi dan lain sebagainya.
Keuntungan lainnya adalah data data yang telah lalu semuanya ada di dalam
komputer, sehingga apabila memerlukan data bulan sebelumnya tinggal mengklik
bulan lalu maka sudah ada semuanya baik jumlah, pasin lama mapun pasien lama.
Sehingga puskesmas tersebut merupakan salah satu puskesmas yang selalu
dipakai para mahasiswa D3 keperawatan sebagai lahan praktek maupun sebagai
salah satu tempat yang dipakai untuk mencari pasien untuk penelitian karya tulis
ilmiah.
Namun salah satu asfek kekurangannya adalah karena menggunakan mesin,
tentunya kadang suka terjadi eror atau kerusakan pada alatnya, sehingga tidak
menutup kemungkinan semua data akan hilang. Makanya tetap meskipn data
tersimpan dalam komputer, harus mempunyai cadangan dalam bentuk lain baik
CD mupun yang lainnya.
Untuk mencapai ke arah keberhasilan tersebut, memerlukan dana dan waktu yang
cukup lama. Diantaranya memberikan keyakinan kepada semua karyawan tentang
keuntungan memakai komputerisasi, kemudian menyediakan berbagai alat yang
diperlukan. Setelah itu melatih para karyawan untuk terampil menggunakannya.
Sehingga berjalan dengan waktu semja karyawan mulai merasa menikmati
merubahan yang tadinya manual ke arah komputerisasi.
 BAB IV
PENUTUP

Sistem informasi manajemen yang dilakukan di puskesmas Cigeureung Kota
Tasikmalaya merupakan langkah yang sangat penting untuk melancarkan
pekerjaan yang dilakukan oleh puskesmas. Dengan mencoba terobosan baru yang
awalnya memang sulit dilakukan karena memerlukan dana dan pengembangan
kemampuan para karyawannya untuk meningkatkan kemapuan dibidang teknologi
dalam melaksanakan pekerjaan dengan menggunakan perawat.
Hasilnya adalah puskesmas ini dari segi pelaporan, data yang terkumpul setiap
bulannya lebih lengkap dibanding dengan puskesmas lainnya di Kota
Tasikmalaya. Tindakan dan hal yang dilakukan oleh para karyawannya terpantau
oleh komputer yang ada di setiap ruangan, sehingga akan meminimalkan
terjadinya kesalahan dalam memberikan layanan perawatan dan pengobatan pada
pasien. Selain hal tersebut adanya efesien waktu sehingga dapat mengerjakan
program atau kegiatan yang lainnya.








 DAFTAR PUSTAKA

AbouZahr1, Carla & Boerma1,Ties . Health information systems: the foundations
of public health in Bulletin of the World Health Organization August 2005, 83 (8)


Departemen Kesehatan RI, Pedoman Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu
Puskesmas, 1981

Departemen Kesehatan RI, Pedoman Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu
Puskesmas, 1993

Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, Sistem Pencatatan dan Pelaporan
Puskesmas (SP3), batasan operasional dan petunjuk pengisian, 2002

Departemen Kesehatan RI, Sistem Kesehatan Nasional, 2004

Departemen Kesehatan RI, Indikator Indonesia Sehat 2010 & Pedoman Penetapan
Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat , 2003

Keliat, dkk (2010). Manajemen Community Mental Health Nursing. Jakarta :
WHO

Kathleen Koenig Blais, Et.al., (2007), Praktik Keperawatan Profesional, Konsep
dan Perspektif, Alih Bahasa : Yuyun Yuningsih, Nike Budi Subekti, EGC,
Jakarta.

Paryati, Yosef Mulya, (2007) Sistem Informasi, Ardana Media, Yogyakarta.


World Health Organization, Medical Records Manual, A Guide for Developing
Countries, 2006

Departemen Teknologi Informatika, Institut Teknologi Bandung (2009), Sistem
Informasi dalam KNSI 2009, Informatika, Bandung.

http://pkko.fik.ui.ac.id/files/tugas%20sim%20ridwan.pdf.
Mutu yankes Sistem Informasi Kesehata